Bagaimana Tren Belanja Distro Bandung Tahun Depan?

iklan
Tempointeraktif.com - Gaya Hidup
Tempointeraktif.com - Gaya Hidup
Bagaimana Tren Belanja Distro Bandung Tahun Depan?
Dec 9th 2011, 14:06

Jum'at, 09 Desember 2011 | 18:51 WIB

TEMPO.CO, Bandung - Menjelang 2012, terjadi perubahan tren pakaian di kalangan anak muda yang suka berbelanja ke distribution outlet (distro) di Bandung. Kaus mulai ditinggalkan. Mereka beralih ke pakaian luar seperti kemeja dan jaket.

Menurut pemilik sejumlah distro di Bandung, Fiki Satari, konsumen yang sejak dulu sering membeli kaus distro, kini banyak yang mencari pakaian luaran seperti kemeja berbahan flanel.

Sedangkan untuk penghangat badan di musim hujan, sweater hoodie masih jadi pilihan. Bahan yang dicari umumnya yang tidak terlalu tebal agar bisa juga dipakai sehari-hari.

Begitu pula jaket yang cenderung dipilih karena multifungsi. Misalnya, berbahan tahan air dan tidak terlalu tebal agar tak perlu membawa atau ganti jas hujan di jalan. "Anak muda itu maunya yang praktis, tapi tetap gaya," ujarnya, Jumat, 9 Desember 2011.

Untuk celana, bahan denim dan jins masih diminati. Namun lebih kembali ke bentuk dasar, tanpa corak belel atau robek-robek. Sedangkan sepatu, jenis moccasin diperkirakan kembali dilirik tahun depan karena mudah dipakai dan bentuknya sederhana.

Bagaimana dengan pakaian cewek? "Tren baju masih bergaris dengan warna-warna cerah," kata Ketua Kreatif Independent Clothing Kommunity (KICK) Ade Andriansyah. Bentuk pakaiannya masih sederhana tanpa banyak kerutan.

Adapun tas perempuan yang lebih suka diburu, juga bergaya sederhana. Biasanya untuk jalan-jalan, acara santai, dengan bahan kulit imitasi dan kanvas.

Meski begitu, setiap distro bisa memunculkan tren sendiri di kalangan penggemarnya. Seperti sekarang, kata Fiki, ada distro yang meluncurkan kaus-kaus bertema quotes atau kutipan bahasa gaul di media sosial. "Pasar anak muda itu sangat terpilih dan setiap distro punya ciri khas masing-masing," katanya.

Di Bandung, kini berdiri tak kurang dari 500 distro. Sebagian ada yang tutup dan muncul yang baru setiap tahun. Distro mulai muncul setelah krisis moneter 1997 karena mahalnya pakaian anak-anak muda ketika itu. Selanjutnya usaha ini berkembang untuk menghidupi komunitas band lokal dan majalah independen di Bandung.

ANWAR SISWADI

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.
If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

0 comments:

Post a Comment