Diagnosa Dini Osteoporosis

iklan
VIVAnews - KOSMO
VIVAnews - KOSMO
Diagnosa Dini Osteoporosis
Oct 7th 2011, 09:42


Jum'at, 7 Oktober 2011, 16:42 WIB

heni pridia, Winda Yanti

VIVAnews - Osteoporosis merupakan masalah global yang dapat menurunkan kualitas hidup dan produktivitas penderitanya. Menurut data dari situs Departemen Kesehatan Republik Indonesia, menunjukkan bahwa usia harapan hidup di Indonesia meningkat dari 64,71 tahun (1995-2000) menjadi 67,68 tahun (2000-2005). Populasi penduduk lanjut usia mencapai 18,4 juta di 2005 dengan perkiraan 19,7 persen dari populasi tersebut menderita osteoporosis.

Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan osteoporosis. Satu-satunya cara adalah dengan  mencegah terjadinya penurunan massa tulang dan menjaga jangan sampai tulang terlanjur patah (fraktur).

Seperti yang diutarakan oleh Prof.DR.Dr.Errol U. Hutagalung, FICS, SpB, SpOT(K). "Osteoporosis harus ditangani dengan cermat sejak dari awal, yaitu pada tahap diagnosa, lewat pengobatan yang harus dilakukan selama minimal 1 tahun, hingga pemantauan terhadap hasil pengobatan," tuturnya.

Konsep penangan yang menyeluruh ini tidak saja membantu para dokter, tapi juga pasien. Karena jika telah terkena osteoporosis, penderita akan mengalami penurunan kualitas hidup dan produktivitas secara drastis.  

Bagaimana mengetahui kondisi tulang? Sebenarnya dapat dilakukan lewat 2 cara, yaitu dengan mengukur Bone Mineral Density (BMD) dan penanda biokimiawi tulang. BMD akan mengkukur tingkat kepadatan tulang lewat sinar X khusus, CT scan, atau ultrasonografi. Sedangkan penanda biokimiawi tulang akan memberikan informasi mengenai ketidakseimbangan potensial antara pembentukan dan resorpsi tulang. Keduanya adalah jenis pemeriksaan yang berbeda, namun dapat saling melengkapi hingga didapatkan informasi yang akurat tentang status tulang.

Usai uji diagnosa, pasien akan diberikan pengobatan osteoporosis yang menjadi standar terapi serta pasien dimonitor responnya terhadap terapi. "Pasien yang telah didiagnosa akan disediakan pengobatan osteoporosis yang menjadi standar terapi. Pasien juga akan dimonitor responnya terhadap terapi," urai dr. Predy Setiawan, Head of Medical Management Roche Indonesia, pada acara Solusi Personalisasi Perawatan Kesehatan Diagnosis, Terapi dan Monitoring Osteoporosis, di Hotel Atlet Century, Jakarta.

Meskipun penyakit ini bukan tergolong penyakit yang dapat dienyahkan dari tubuh penderitanya, tapi, jika dilakukan dengan konsisten, kerapuhan tulang dapat diperlambat lajunya.

• VIVAnews

Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

' ); $.ajax({ type: "POST", url: "/comment/load/", data: "valIndex=" + a + "&articleId=" + b + "&defaultValue=" + c, success: function(msg){ $("#loadkomen").html(msg); //$(".balasan").hide(); } }) }

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.
If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

0 comments:

Post a Comment