Ketahui Sisi Baik dan Buruk Kegiatan Reuni

iklan
VIVAnews - KOSMO
VIVAnews - KOSMO
Ketahui Sisi Baik dan Buruk Kegiatan Reuni
Feb 23rd 2012, 11:42

VIVAnews - Mengadakan ajang kumpul-kumpul bersama setelah berpisah sekian lama dengan sejumlah kawan di acara reuni memang sering menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Bahkan, reuni menurut ahli Etnografi, Amalia Maulana, memiliki sisi positif untuk kesehatan dan keharmonisan hubungan pertemanan.

Reuni menjadi ajang bersosialisasi guna merekatkan kembali tali persahabatan. Salah satu tujuan reuni adalah untuk memperbarui citra diri seseorang guna tampil prima, mereka perlu merasa nyaman dan percaya diri baik dari segi fisik maupun emosional.

"Reuni juga bermanfaat untuk mengembalikan peranan seseorang yang mungkin sudah terkikis waktu," kata Amalia di acara Polident Reuni Impian di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis 23 Februari 2012.

Misalnya, saat kuliah seseorang adalah bintang kampus, tapi 20 tahun kemudian tidak seperti dulu lagi. Hal itu kadang membuat orang ragu-ragu untuk datang ke acara reuni. "Tapi, dengan adanya reuni, kita juga bisa semangat lagi untuk punya peranan seperti dulu," ujarnya.

Meski begitu, reuni juga kerap dipandang sebelah mata, karena kegiatan ini juga diidentikkan dengan hura-hura. Padahal, reuni tak harus menghambur-hamburkan uang. Bahkan, kadang ada juga kasus di mana reuni berikutnya tak sesukses reuni pertama. Karena itu sukses tidaknya sebuah reuni tergantung dari penggeraknya.

"Ada yang reuni pertama lengkap, reuni kedua dan selanjutnya semakin berkurang pesertanya. Itu semua karena tidak ada 'manajer'nya," ujarnya.

Sebuah penelitian juga pernah mengungkap manfaat dari kegiatan kumpul-kumpul bersama teman di ajang reuni. Ternyata kegiatan santai ini juga bisa membuat umur panjang. Sebuah penelitian bahkan pernah menemukan bahwa seseorang yang banyak dikelilingi teman dan saudara kemungkinannya meninggal lebih cepat berkurang 50 persen dibandingkan mereka yang tidak memiliki kehidupan sosial.

Orang-orang yang memiliki kehidupan sosial yang cukup aktif rata-rata hidup 3,7 tahun lebih lama. Para peneliti juga mengungkap efek dari memiliki teman dibandingkan dengan berhenti merokok. Merasa sendirian dengan sedikit dukungan sosial meningkatkan risiko kematian, seperti kecanduan alkohol atau obesitas.

Penelitian yang dilakukan tim dari Brigham Young University dan University of North Carolina (UCLA) juga menunjukkan ada hubungan antara kematian dan kesepian baik pada wanita maupun pria di segala usia. Mereka menganalisis data dari 148 penelitian selama tiga dekade yang melibatkan 300.000 orang.

"Teman dan orang-orang yang mendukung dapat membuat hidup menjadi lebih terasa mudah. Mereka bisa meminjamkan uang, membantu mengurus bayi atau memberikan perhatian kecil yang membuat Anda merasa diperhatikan," kata  Bert Uchino, salah satu peneliti dari Brigham Young University, Amerika Serikat, seperti dikutip dari Daily Mail.

Ia menambahkan, dukungan emosi yang didapatkan dari teman dan orang tercinta dapat membantu mengurangi beban masalah. Hal ini sangat penting agar tidak memicu stres atau depresi berat yang bisa menjadi penyakit dan memicu kematian lebih cepat.

"Seseorang yang mendapat dukungan dan hubungan sosial yang positif, tekanan darah, gula darah, metabolisme, dan stres hormonnya lebih stabil," kata Teresa Ellen Seeman, profesor medis dari UCLA School of Public Health. (art)

• VIVAnews

Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Kirim Komentar

Anda harus Login untuk mengirimkan komentar

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

0 comments:

Post a Comment